Arsip untuk Composting;Olah Sampah

“Composting” Kurangi Pencemaran Lingkungan Hidup

Posted in Uncategorized with tags on Agustus 10, 2009 by Green Corruption Watch

Meningkatnya perhatian masyarakat mulai menyadari akibat-akibat yang ditimbulkan dan kerusakan lingkungan hidup. Sebagai contoh apabila ada penumpukan sampah dikota maka permasalahan ini diselesaikan dengan cara mengangkut dan membuangnya ke lembah yang jauh dari pusat kota, maka hal ini tidak memecahkan permasalahan melainkan menimbulkan permasalahan seperti pencemaran air tanah, udara, bertambahnya jumlah lalat, tikus dan bau yang merusak, pemandangan yang tidak mengenakan. Akibatnya menderita interaksi antara lingkungan dan manusia yang akhirnya menderita kesehatan.

Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Hal ini membutuhkan daya dukung lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Masalah lingkungan hidup sebenatnya sudah ada sejak dahulu, masalah lingkungan hidup bukanlah masalah yang hanya dimiliki atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun negara-negara miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan masalah dunia dan masalah kita semua. Pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas. Dewasa ini lingkungan hidup sedang menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia umumnya.

Geliat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel)

Kemampuan manusia untuk mengubah atau memoditifikasi kualitas lingkungannya tergantung sekali pada taraf sosial budayanya. Masyarakat yang masih primitif hanya mampu membuka hutan secukupnya untuk memberi perlindungan pada masyarakat Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tahun 2008 mencanangkan “composting” di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan sampah organik, untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

Pemerintah Kota Pangkalpinang tahun 2008 mencanangkan program ‘composting’ di masing-masing rumah masyarakat dengan memanfatkan sampah organik yang tak digunakan sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Kebakaran Kota Pangkalpinang, Drs. Suparyono, di Pangkalpinang, Senin. Ia juga menjelaskan, untuk tahap awal pemerintah Kota secara umum akan memulai composting di Tempat Pembuangan Akhir milik Pemkot Pangkalpinang dan itu akan dijadikan bahan percontohan. Setelah berhasil Pemerintah kota Pangkalpinang akan menerapkan di masing-masing rumah warga dan warga itulah nantinya yang akan mengolah sendiri sampah organik mereka yang tidak terpakai menjadi pupuk kompos melalui composting sehingga dapat menekan pencemaran lingkungan oleh sampah.

Sejauh ini kesadaran masyarakat Kota Pangkalpinang akan kepedulian memperhatikan lingkungan cukup baik namun kedepan harus dapat lebih ditingkatkan demi menjaga dan menciptkan lingkungan yang indah dan bersih demi kesejahteraan semua masyarakat.

Masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang irreversible. Prilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya mengakibatkan timbulnya penyakit juga sesuai dengan prilakunya tadi.

Harapan Kepada Pengusaha dan Masyarakat.

Lingkungan memang perlu dilestarikan supaya diperoleh keadaan yang seimbang antara manusia dan lingkungannya itu sendiri. Begitu banyak dampak yang ditimbulkan jika kita tidak memperhatikan keseimbangan alam yang digunakan sebagai tempat kehidupan.

Diharapkan kepada masyarakat marilah kita bersatu padu dalam memandang dan memikirkan jalan keluar, sehingga kita bisa mengambil manfaat dari masalah ini. Marilah menyatukan mindset, satukan paradigma kita, bahwa sampah itu adalah mempunyai nilai tambah (kesehatan dan ekonomi) bila dikelola dengan baik, jangan biarkan meracuni diri manusia. Disadari pula bahwa sumber atau penyebab adanya sampah tersebut adalah dari manusia sendiri juga, alangkah naifnya kita mencampakkan “sampah” itu setelah mengambil manfaat dari sampah. Pantas pulalah bila “sampah” itu marah kepada manusia dengan “mendatangkan bencana” karena ketidakpedulian kita terhadap “sampah” setelah mengambil manfaat darinya. Marilah kita mencermati masalah ini, jangan semata kita mengharapkan masalah ini ke pemerintah, ini masalah bersama, terlebih sumber dari sampah itu dari manusia sendiri. Olahllah “sampah” menjadi manfaat, walau hanya dengan memilah dari sampah organik (sampah dapur) dengan sampah an-organik (kaleng, plastic,dll), hal itu sudah lebih dari cukup, dari pada mengabaikannya. Ingat sampah juga marah bila tidak ditempatkan di tempatnya, begitupun sama persisnya dengan manusia, marah bila disepelekan.

Komunitas pengusaha, terkhusus di kawasan industri atau pabrik yang bisa mencemarkan lingkungannya sendiri, rumah sakit demikian pula yang banyak menghasilkan sampah, pasar-pasar tradisional. Patuh dan Pedulilah dengan kondisi ini terlebih telah diundang-undangkannya tentang persampahan ini oleh pemerintah sejak tahun 2008 (UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Sampah) yang lalu. Buatlah unit usaha pengelolaan sampah dilingkungan kawasan industri/pabrik itu, bisa dikelola oleh koperasi karyawan dengan melibatkan masyarakat sekitarnya, dengan begini terjadi kepedulian baik terhadap efek langsung yaitu penanggulangan sampah/limbah maupun efek kesehatan, ekonomi serta mengurangi tingkat pengangguran. Sungguh indah bila kondisi ini terlaksana.

Harapan Kepada Pemda lainnya di Indonesia.

Harapan khusus kepada Pemerintah Daerah, baik Propinsi, terlebih Pemerintah Kabupaten Kota di seluruh Indonesia. Mungkin bisa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tahun 2008 atau Propinsi/Kabupaten-Kota lainnya untuk dijadikan sampling dengan mencanangkan “composting” di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan sampah organik, untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Setidaknya tempat pembuangan sementara (TPS), diberi kesempatan dan dukungan dana kepada Kecamatan/Kelurahan-Desa untuk masing-masing mengelola sampah warganya dengan system (komunal) composting tersebut dengan melibatkan masyarakat sekitarnya, dampak dari ini semua tentu beban tempat pembuangan akhir berkurang. Mari kita peduli dengan masalah ini. Mari menghijaukan Indonesia.

STOP GLOBAL WARMING, selamatkan bumi kita.

Salam Hijau untuk Indonesia.

H. Asrul Hoesein
Pendiri: GIH Foundation
(NGO Pro Green)
cp; 085215497331

Iklan